Klaten, 30 September 2025 – Sebanyak 10 ibu yang memiliki balita stunting di Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, Klaten, mengikuti pelatihan pengolahan limbah kain perca menjadi kerajinan tangan bernilai jual. Kegiatan ini digelar oleh tim dosen Universitas ‘Aisyiyah (Aiska University) Surakarta dengan dukungan hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (DRTPM) 2025. Stunting bukan sekadar soal tubuh pendek. Lebih dari itu, ia menyangkut kecerdasan otak, kesehatan, hingga produktivitas anak di masa depan. UNICEF bahkan menyebut stunting sebagai ancaman serius bagi kualitas generasi mendatang. Di Desa Kedungan, angka stunting masih membandel. Tahun 2024 tercatat ada 19 balita yang stunting, dan pada 2025 menjadi 21 balita. Situasi ini menjadi alarm bahwa pendekatan perbaikan gizi saja belum cukup. Mayoritas ibu dari balita stunting di Desa Kedungan harus bekerja penuh waktu demi menopang ekonomi keluarga. Anak-anak mereka dititipkan pada nenek atau kerabat. Akibatnya, pola asuh dan perhatian pada gizi anak tidak optimal.Lebih berat lagi, keterbatasan ekonomi membuat pilihan makanan bergizi masih terbatas. Protein hewani, buah, dan sayuran sering terpinggirkan karena harga yang lebih mahal. Meski para ibu bekerja keras, perbaikan gizi balita nyatanya jalan di tempat. Desa Kedungan dan sekitarnya dikenal sebagai sentra kecil konveksi kaos dan modiste. Usaha home industri ini setiap hari menghasilkan limbah kain perca yang selama ini hanya berakhir di tempat sampah. Namun, siapa sangka “sampah” itu justru menyimpan peluang emas. Kain perca bisa disulap menjadi kerajinan cantik seperti tas , dompet, kucir rambut, sarung bantal , keset dan lain lain. Apalagi tren produk ramah lingkungan sedang digemari pasar. Melihat potensi itu, tim dosen dari Universitas ‘Aisyiyah Surakarta hadir memberi solusi, dengan bantuan dana hibah dari Kementerian Pendidikan Budaya, Riset dan Tehnologi (DRTPM) tahun 2025 , mereka mengadakan pelatihan untuk ibu-ibu balita stunting, mengajarkan cara mengolah kain perca menjadi kerajinan bernilai jual tepatnya tanggal 30 September 2025 di Balai Khasanah milik RW 01 Kedungan Pedan Klaten. Dalam kegiatan ini juga menyertakan mahasiswa agar mereka bisa mengenal bagaimana kondisi masyarakat dengan permasalahan dan solusinya. Mahasiswa sekaligus belajar dan mengaplikasikan kewirausahaan, ilmu komunikasi maupun sosiologi.
Peserta pelatihan sejumlah 10 ibu yang mempunyai anak balita stunting sangat antusias, tampak ibu ibu semangat mencoba membikin kerajinan kain perca seperti tas kecil untuk tempat HP, ada yang mencoba membuat kucir rambut, dan beberapa yang membuat sarung bantal. Mereka menyampaikan sangat senang dengan kegiatan ini dan lebih senang lagi karena mendapat bantuan mesin jahit untuk proses produksinya. Untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi dibuat group whatsApp dengan nama group “OMAH GOMBALMU” singkatan dari Obrolan Mamah Golek Berkah Lan Mulyo. Maknanya bahwa kelompok ibu ibu yang mempunyai balita stunting ini bersama sama berdiskusi berusaha mencari income yang berkah untuk menopang kebutuhan keluarga agar bisa mencukupi Gizi balitanya sehingga bisa lulus stunting dan sehat selalu. Tidak berhenti di situ, para ibu juga dibekali keterampilan manajemen usaha sederhana: cara menghitung modal, memisahkan keuntungan, dan mengatur keuangan rumah tangga. Yang lebih menarik, mereka juga diajari memasarkan produk lewat media sosial seperti Instagram, Facebook, hingga WhatsApp Business. Dengan bekal ini, para ibu siap bersaing di era digital.
Program pemberdayaan ini memberi dampak ganda. Pertama, para ibu tetap bisa berusaha tanpa harus meninggalkan rumah, sehingga waktu bersama anak lebih banyak. Kedua, tambahan penghasilan membuka peluang bagi keluarga untuk membeli makanan bergizi dan kebutuhan kesehatan anak. Dengan kata lain, masalah gizi balita bisa diatasi lewat jalur ekonomi. Jika daya beli naik, maka kualitas makanan pun ikut meningkat.